Rabu, 11 Februari 2015

pasar sekarang dan dahulu

1-Buah buahan

terimakasih sudah berkunjung^^

sesuai dengan judulnya 
kali ini aku mau bagi-bagi pengetahuan tentang perbedaan 
"pasar yang sekarang sama zaman dahulu"

mungkin sesaat yang terlintas dipikiran kita tentang pasar zaman dahulu adalah sistem barter, sebagai sitem jual beli orang zaman dahulu. atau mengenai tempat dan teknologi yang dahulu kita berjual beli di pasar tradisional dan menggunakan perhitungan manual, sekarang selain sudah ada supermarket, untuk menghitung jumlah belanjaan teknologinya juga canggih. dengan sekali bunyi "tiitt" maka harga makanan akan langsung muncul dilayar monitor. :)



tetapi yang akan kita bahas di bawah ini bukan pasar yang seperti itu. yang akan kita bahas adalah pasar saat para penjaga tokonya menerapkan sistem dagang dengan benar.
sebetulnya kalian bisa langsung ke alamat webnya, soalnya artikel ini aku copas dari web suatu majelis.

ok. dari pada banyak basa-basi berikut artikelnya: :)

Habib Umar bin Hafidz mensifati Pasarnya Ummat Islam Dahulu Kala


Pasarnya ummat Islam dahulu bersinar penuh cahaya keluhuran. Di riwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra “Pasarnya ummat Islam layaknya sebuah mushallah tempat orang melaksanakan shalat”. Karena dalam lingkungan pasar akan kita jumpai syariat Islam, amanah, adab, akhlak, dzikir serta tilawah Alqur’an. Bahkan konon dahulu kala akan kita dapati para pedagang yang menjaga toko selalu membaca Qur’an dan kitab Dalail Khairat di waktu senggangnya. Al Imam Junaid bin Muhammad rahimahullah seorang ulama shufi memiliki kebiasaan tidak membuka toko terkecuali setelah melaksanakan shalat sunnah tiga ratus rakaat di dalam tokonya. Saat ini marilah kita tengok bagaimana keadaan masjid kita? Adakah orang yang melaksanakan shalat hingga tiga ratus rakaat di dalam masjid?
Dahulu pasar di Kota Tarim menjadi salah satu pusat kajian ilmu, para pedagang selalu meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukan berdagang dengan mengadakan pengajian rutin, membahas kitab Minhaj Thalibin Fiqh mazhab Imam Syafi’i karya Imam Nawawi. Sehingga kita mengenal sebuah makalah “Jalanan di Kota Tarim adalah guru bagi siapa saja yang tidak memiliki guru” dalam artian banyaknya orang yang beraktivitas di jalanan di baluti dengan dzikr, nasihat yang secara tidak langsung mengajari dan mengajak kita untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Sayyidina Umar bin Khattab ra punya standart “Tidak boleh berdagang di pasar ummat Islam terkecuali mereka yang memiliki pemahaman fiqh jual beli yang mumpuni”. Sebuah  pemandangan indah yang sulit kita jumpai di pasar-pasar yang ada saat ini, alangkah baiknya kita lestarikan kebiasaan baik orang-orang terdahulu, jika tidak mampu melaksanakan secara keseluruhan laksanakanlah sebagian, mulailah dari yang terkecil. Waffaqakumullah li ma yuhiibuh wa yardhah.
Disarikan dari Ceramah Habib Umar bin Hafidz
Ibn Abdillah


sekian, semoga bermanfaat :)


Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad

rosa mega utama di
pelajaranpyo.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

wojib komen yaa